Universitas Al-Azhar di Kairo telah menjadi magnet keilmuan bagi dunia Islam selama lebih dari seribu tahun. Bagi Nusantara, hubungan dengan Al-Azhar bukan sekadar fenomena modern, melainkan perjalanan panjang yang dibangun oleh ulama, santri, dan intelektual lintas generasi. Berikut narasi kronologis mengenai bagaimana jaringan ilmu tersebut berkembang dan melahirkan komunitas pelajar Indonesia yang kian solid hingga sekarang.
Abad ke-17: Awal Jaringan Ilmu ke Timur Tengah
Pada abad ke-17, jalur rihlah ilmiyah antara Nusantara dan Timur Tengah mulai terbuka. Meskipun belum ada catatan resmi mengenai pelajar Indonesia yang mukim di Al-Azhar, hubungan intelektual dibangun melalui Makkah dan Madinah. Ulama seperti Abdurrauf as-Sinkili dari Aceh menjadi pionir yang menjalin sanad ke banyak guru Timur Tengah. Mereka membawa pulang metode pengajaran, literatur, dan jejaring yang kelak mengarahkan santri Nusantara untuk menempuh studi hingga Mesir.
Abad ke-18: Koneksi Tak Langsung dengan Al-Azhar
Memasuki abad ke-18, makin banyak tokoh Nusantara yang menimba ilmu di wilayah Hijaz. Di antara yang paling menonjol adalah Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdussamad al-Falimbani. Banyak guru mereka merupakan lulusan atau punya jejaring erat dengan Al-Azhar, sehingga corak pemikiran Al-Azhar meresap ke karya-karya ulama Nusantara. Pada fase ini, rihlah ke Mesir belum umum, tetapi benih koneksi ilmiah telah tertanam dengan kuat.
Abad ke-19: Kedatangan Awal dan Berdirinya Riwaq al-Jawi
Pertengahan abad ke-19 menandai babak baru. Sekitar tahun 1850, KH Abdul Manan Dipomenggolo dari Tremas resmi tercatat sebagai mahasiswa Al-Azhar yang belajar langsung kepada Syekh Ibrahim al-Bajuri. Untuk menampung santri Nusantara, Al-Azhar membuka Riwaq al-Jawi, sebuah asrama yang terletak di antara Riwaq Salmaniyyah dan Syawwam.
Riwaq al-Jawi dilengkapi perpustakaan mini berisi sekitar 46 jilid kitab dan diasuh oleh Syekh Ismail Muhammad al-Jawi, tokoh Naqsyabandiyah yang aktif mengajar serta membimbing jamaah tarekat. Kehadiran riwaq ini memudahkan santri Nusantara memperoleh akses penginapan, kitab, serta pembimbing rohani.
Awal Abad ke-20: Penguatan Tradisi Intelektual
Jumlah pelajar Indonesia di Mesir meningkat drastis seiring kemudahan transportasi laut yang menghubungkan Aceh, Singapura, dan Suez. Tokoh penting periode ini adalah Syekh Tahir Jalaluddin dari Minangkabau yang dikenal sebagai ahli falak dan sahabat dekat para pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Imam Nawawi al-Bantani juga memberi warna kuat meski tak tercatat sebagai mahasiswa formal Al-Azhar. Karya-karyanya diterbitkan di Mesir, mengisi rak perpustakaan Al-Azhar, dan menjadi rujukan bagi ulama setempat. Periode ini menegaskan bahwa intelektual Nusantara tidak hanya menerima, tetapi turut memberi kontribusi pemikiran.
Masa Kemerdekaan: Pelajar sebagai Diplomat Nonformal
Selepas proklamasi 1945, komunitas pelajar Indonesia di Mesir berubah fungsi menjadi corong diplomasi. Mereka mendirikan organisasi pelajar, melakukan audiensi ke tokoh Mesir, hingga menggelar aksi damai bersama Ikhwanul Muslimin untuk memperjuangkan pengakuan internasional bagi Republik Indonesia. Pada 1947, Mesir resmi menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure, berkat diplomasi kultural para pelajar tersebut.
1870-an
Perkiraan awal kepadatan pelajar Nusantara di Riwaq al-Jawi.
1947
Mesir menjadi negara pertama yang mengakui Republik Indonesia.
1500+
Pelajar yang dibimbing Dunia Tour Travel menuju Al-Azhar.

Era Modern (1995–Sekarang)
Memasuki era modern, hubungan pendidikan antara Indonesia dan Mesir—khususnya Universitas Al-Azhar—mengalami perkembangan yang semakin pesat. Sejak 1995, pengorganisasian pelajar Indonesia di Mesir berada di bawah naungan PPMI Mesir (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir), yang melanjutkan estafet organisasi sebelumnya seperti PERPINDOM dan HPMI. Struktur organisasi yang lebih sistematis ini membuat layanan akademik, sosial, dan advokasi pelajar menjadi lebih tertata.
Dalam dua dekade terakhir, minat masyarakat Indonesia untuk menempuh studi di Al-Azhar meningkat signifikan. Hal ini didorong oleh reputasi Al-Azhar sebagai pusat moderasi Islam (Islam washatiyah), pembaruan pemikiran, serta akses ke ulama dan literatur klasik yang otoritatif. Selain jurusan agama, Al-Azhar juga membuka berbagai fakultas umum seperti kedokteran, teknik, dan sains, yang turut menarik minat calon mahasiswa Indonesia.
Pemerintah Indonesia dan Al-Azhar juga menjalin kerja sama yang semakin kuat, antara lain melalui program beasiswa, pertukaran akademik, dan kunjungan resmi ulama Al-Azhar ke Indonesia. Sejumlah ulama besar Mesir, seperti Grand Syekh Al-Azhar dan para masyayikh senior, berkali-kali melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka memperkuat hubungan keilmuan dan pendidikan. Di sisi lain, lulusan Al-Azhar berperan aktif di berbagai institusi keagamaan nasional, lembaga pendidikan, hingga diplomasi antarnegara.
Seiring meningkatnya jumlah peminat, kebutuhan pendampingan perjalanan dan keberangkatan pelajar juga semakin besar. Pada periode ini mulai hadir lembaga resmi yang membantu proses persiapan, keberangkatan, dan penempatan pelajar Indonesia ke Al-Azhar. Salah satunya adalah Dunia Tour Travel, yang telah menjadi mitra terpercaya dalam memberangkatkan lebih dari 1500 pelajar dan mahasiswa ke Mesir. Lembaga ini menyediakan pendampingan mulai dari informasi program, administrasi keberangkatan, hingga pendampingan awal setiba di Kairo.
Dengan tersedianya jalur resmi keberangkatan, peningkatan layanan akademik, serta dukungan organisasi pelajar, era modern menjadi fase yang paling stabil dan produktif dalam sejarah hubungan pendidikan antara Indonesia dan Al-Azhar. Ribuan pelajar Indonesia kini belajar di berbagai fakultas, berkontribusi dalam jejaring intelektual global, sekaligus melanjutkan tradisi panjang keilmuan Nusantara di kota Kairo.
Penutup: Tradisi Ilmu yang Terus Relevan
Dari fondasi abad ke-17, pembukaan Riwaq al-Jawi, hingga organisasi modern dan jalur keberangkatan resmi, perjalanan pelajar Indonesia di Al-Azhar menunjukkan kesinambungan tradisi ilmu. Era digital menuntut kesiapan bahasa, literasi, dan kemandirian. Dengan pendampingan yang tepat, generasi baru dapat meneruskan kontribusi ulama Nusantara di panggung global.